Forex Trading System Forex Trading-Zwecke Der Zweck des Anlegers im Forex-Handel ist der Gewinn aus Fremdwährungsbewegungen. Forex Trading oder Devisenhandel erfolgt immer in Währungspaaren. Zum Beispiel heute ist der Wechselkurs von EUR USD 1.0857. Diese Zahl wird auch als die Forex-Rate oder einfach nur für kurz bezeichnet. Hat der Anleger damals 8364 Tsd. Gekauft, zahlt er 1085,70 Dollar. Ein Jahr später lag der Devisenkurs bei 1.2083, was bedeutet, dass der Wert des Euro (der Zähler des EUR-USD-Verhältnisses) gegenüber dem US-Dollar gestiegen ist. Anleger können jetzt 8364 1000 verkaufen, um 1208,30 Dollar zu erhalten. Beim Handel von Währungen, Handel nur, wenn Sie erwarten, dass die Währung, die Sie kaufen, um den Wert der Währung, die Sie verkaufen zu erhöhen. Wenn die Währung, die Sie dort kaufen keine Erhöhung des Wertes, müssen Sie verkaufen die andere Währung, um in Gewinne zu sperren. Ein offener Handel (auch Open-Position genannt) ist ein Handel, bei dem Händler ein bestimmtes Währungspaar kaufen oder verkaufen und nicht den entsprechenden Betrag verkauft oder zurückgekauft haben, um die Position zu schließen. Im Handel können wir profitieren von steigenden oder ob der Markt ist unten. Sein Weg ist, indem er ein Währungspaar analysiert, das naek oder unten ist, und seinen Unterschied vom Handel nehmen. Wenn Sie glauben, die Währung zu stärken (erhöhen) sofort kaufen Position, dann warten, bis die Preise steigen, führen geschlossen (verkaufen), wenn die Währung den Kaufpreis Sie früher übersteigt. Wenn Sie glauben, dass die Währung schwächen (nach unten gehen) verkaufen Position, warten, bis die Preise fallen, geschlossen (kaufen), wenn die Währung unter dem Preis Sie früher. Wie das Beispiel hierfür ist: Eröffnung der Euro 1,1750 1,1753, analysieren Sie, dass der Euro eine Position nak 1.17701.1767, dann ist die offene Kaufposition sein wird, wenn der Preis ist (dann kaufen Sie an der Position von 1,1753), und wenn die Position Geändert, um 1.17701.1773, die geschlossene Position verkaufen Währung diese (an Position 1.1770) Dann können Sie in zwei Fällen profitieren. Okey HOW TO TRADING Forex-Handel wird in der Regel durch einen Broker oder Market Maker getan. Als Forex Trader können Sie das Währungspaar, das Sie erwarten, um den Wert zu ändern und Ort Trades entsprechend. Zum Beispiel, wenn Sie 1000 Euro im April 2010 gekauft, es kostet Sie etwa 1.300 USD. Im gesamten Jahr 2010 steigt der Wert des Euro gegenüber dem US-Dollar. Am Ende des Jahres 1000 war der Euro 1,400 US-Dollar wert. Wenn Sie den Handel an diesem Punkt beenden möchten, haben Sie einen Gewinn von 100. Buchung und Transaktion kann nur mit wenigen Klicks getan werden und Broker werden Geschäftspartner. Wenn Sie den Handel schließen, schließt der Broker eine Position auf dem Interbankmarkt und belastet Ihr Konto mit einem Verlust oder Gewinn. Das alles kann in wenigen Sekunden passieren. TRADING RISK Ist es wahr, dass Forex ist erschreckend Trading in diesem Markt ist sehr riskant und sollte nicht von Anfängern ohne die Unterstützung eines erfahrenen Traders versucht werden. Wenn Sie planen, geben Sie den Forex-Markt, ist es empfehlenswert, dass Sie zuerst über den Forex-Markt lernen und wie es funktioniert. In der Forex-Markt, können Sie leicht einen Gewinn zu machen und Sie können leicht verlieren Geld als gut. Forex-Handel kann nicht genau vorhergesagt werden, kann es Sie verlieren Geld in großen Mengen. Nehmen von Klassen, die Forex Trading-Kurs anbieten, wird empfohlen, dass Sie mehr über diesen Markt zu verstehen und lernen, wie Sie Verlust minimieren und maximieren können. Oder wenn nicht, können Sie ernsthaft studieren auf Websites im Internet, die das Problem des Devisenhandels zu diskutieren. Sie können direkt auf die Szene: cafetrader. bolgspot und seputarforex. Dalam bukunya Prof. Drs. Masjfuk Zuhdi yang berjudul MASAIL FIQHIYAH Kapita Wählen Sie Hukum Islam, diperoleh bahwa Forex (Perdagangan Valas) diperbolehkan dalam hukum islam. Perdagangan valuta asing Timbul Karena adanya perdagangan barang-barang kebutuhankomoditi antar negara yang bersifat internasional. Perdagangan (Ekspor-Impor) ini tentu memerlukan alat bayar yaitu uang Yang Masing-Masing negara mempunyai ketentuan sendiri dan berbeda satu sama Verschiedenes sesuai dengan penawaran dan permintaan diantara negara-negara tersebut sehingga Timbul PERBANDINGAN nilai MATA uang antar negara. Perbandingan nilai mata uang antar Negara terkumpul dalam Suatu BURSA atau PASAR Yang bersifat internasional dan terikat dalam Suatu kesepakatan bersama Yang Saling menguntungkan. Nilai mata uang suatu negara dengan negara lainnya ini berubah (berfluktuasi) setiap saat sesuai Volumen permintaan dan penawarannya. Adanya permintaan und penawaran inilah yang menimbulkan transaksi mata uang. Yang secara nyata hanyalah tukar-menukar mata uang yang berbeda nilai. Hüküm ISLAM dalam TRANSAKSI Valas 1. Ada IJAB-Qobul: --- gt Ada perjanjian untuk memberi dan menerima 8226 Penjual menyerahkan barang dan pembeli membayar Tunai. 8226 Ijab-Qobulnya dilakukan dengan lisan, tulisan dan utusan. 8226 Pembeli dan penjual mempunyai wewenang Penuh melaksanakan dan tindakan-tindakan hukum (dewasa dan berpikiran sehat) melakukan 2. Memenuhi syarat Menjadi OBJEK transaksi jual-beli yaitu: 8226 Suci barangnya (bukan najis) 8226 Dapat dimanfaatkan 8226 Dapat diserahterimakan 8226 Jelas barang dan harganya 8226 Dijual (dibeli) oleh pemiliknya sendiri atau kuasanya atas izin pemiliknya 8226 Barang sudah berada ditangannya jika barangnya diperoleh dengan imbalan. Perlu ditambahkan pendapat muhammad isa, bahwa jual beli saham itu diperbolehkan dalam agama. Jangan kamu membeli ikan dalam Luft, karena sesungguhnya jual beli yang demikian itu mengandung penipuan. (Hadis Ahmad bin Hanbal dan Al Baihaqi Dari Ibnu Masud) Jual beli barang Yang tidak di Tempat transaksi diperbolehkan dengan syarat Harus diterangkan sifat-sifatnya atau ciri-cirinya. Kemudian jika barang sesuai dengan keterangan penjual, maka sahah jual belinya. Tetapi jika tidak sesuai maka pembeli mempunyai hak khiyar, artinya bohne meneruskan atau membatalkan jual belinya. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi riwayat Al Daraquthni Dari Abu Hurairah: Barang Siapa Yang membeli sesuatu yan g ia tidak melihatnya, maka ia berhak khiyar jika ia Telah melihatnya. Jual beli hasil tanam Yang masih terpendam, seperti ketela, Kentang, bawang dan sebagainya juga diperbolehkan, asal diberi contohnya, karena Akan mengalami kesulitan atau kerugian jika Harus mengeluarkan semua hasil tanaman Yang terpendam untuk dijual. Hal ini sesuai dengan kaidah hukum Islam: Kesulitan itu menarik kemudahan. Demikian juga jual beli barang-barang Yang Telah terbungkustertutup, seperti makanan ka lengan, LPG, dan sebagainya, asalkam diberi Label Yang menerangkan isinya. Vide Sabiq, op. Cit. Hal 135. Mengenai teks kaidah hukum Islam tersebut di atas, vide Al Suyuthi, Al Ashbah wa al Nadzair, Mesir, Mustafa Muhammad, 1936 hal. 55. JUAL BELI VALUTA ASING DAN SAHAM Yang dimaksud dengan valuta als adalah mata uang luar negeri seperi dolar Amerikanisches, poundsterling Inggris, ringgit Malaysia dan sebagainya. Apabila antara negara terjadi perdagangan internasional maka tiap negara mutuhkan valuta asing untuk alat bayar luar negeri yang dalam dunien perdagangan erkrankung devisa. Misalnya eksportir Indonesien akan memperoleh devisa dari hasil ekspornya, sebaliknya importir Indonesien memerlukan devisa untuk mengimpor dari luar negeri. Dengan demikanischen akan timbul penawaran dan perminataan di bursa valuta asing. Setiap negara berwenang penuh menetapkan kurs uangnya masing-masing (kurs. Ah an an an an a a a a a a a a a a a a a a))))))))))))))))) 12.000. Ub...................................................... Pencatatan kurs uang dan transaksi jual beli valuta Asing diselenggarakan di Bursa Valuta Asing (AWJ Tupanno et al Ekonomi dan Koperasi, Jakarta, Depdikbud 1982 hal 76-77..) Fatwa MUI tentang PERDAGANGAN Valas Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 28DSN-MUIIII2002, Zehntel Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf). Menimbang. ein. Bahwa dalam sejumlah kegiatan untuk memenuhi berbagai keperluan, seringkali diperlukan transaksi jual-beli mata uang (al-Sharf), baik antar mata uang sejenis maupun antar mata uang berlainan jenis. B. Bahwa dalam urf tijari (Tradisi perdagangan) transaksi jual beli mata uang dikenal beberapa bentuk transaksi Yang Status hukumnya dalam pandang AJARAN Islam berbeda antara satu bentuk dengan bentuk gelegen. C. Bahwa Agar kegiatan transaksi tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam, DSN memandang perlu menetapkan Fatwa tentang al-Scharf untuk dijadikan pedoman. Mengingat. Fräulein Allah, QS. Al-Baqarah2: 275:. Dan Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Hadis Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibn Madscha Dari Abu Said al-Khudri. Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya jual beli itu hanya Boleh dilakukan atas dasar kerelaan (antara Kedua Belah pihak) (HR al - baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban). Hadis Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim Dari Ubadah bin Shamit, Nabi bersabda sah: (Juallah) emas dengan Emas, Perak dengan Perak, gandum dengan gandum, syair dengan syair, kurma dengan kurma , Dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan Secara Tunai .. Hadis Nabi riwayat Muslim, Tirmidzi, Nasai, Abu Daud, Ibn Madscha, dan Ahmad, Dari Umar bin Khattab, Nabi sah bersabda: (Jual-beli) emas dengan perak adalah riba kecuali (dilakukan) Secara Tunai .. Hadis Nabi riwayat Muslim Dari Abu Said al-Khudri, Nabi sah bersabda: janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagian atas sebagian yang gelegen janganlah menjual perak dengan perak kecuali sama (nilainya ) Dan janganlah menambahkan sebagaian atas sebagian yang lanien dan janganlah menjual emas dan perak tersebut yang tidak tunai dengan yang tunai. Hadis Nabi riwayat Muslimische Dari Bara bin Azib und Zaid bin Arqam. Rasulullah sah melarang menjual perak dengan emas secara piutang (tidak tunai). Hadis Nabi riwayat Tirmidzi Dari Amr bin Auf: Perjanjian dapat dilakukan di antara Kaum muslimin, kecuali perjanjian Yang mengharamkan Yang halal atau menghalalkan Yang haram dan Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat Mereka kecuali syarat Yang mengharamkan Yang halal atau menghalalkan Yang haram. Ijma. Ulama sepakat (ijma) bahwa akad al-Schein disyariatkan dengan syarat-syarat tertentu. Memperhatikan: 1. Surat dari pimpinah Einheit Usaha Syariah Bank BNI-Nr. UUS2878 2. Pendapat Peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional Pada Hari Kamis, Tanggal 14 Muharram 1423H 28 Maret 2002. MEMUTUSKAN Dewan Syariah Nasional Menetapkan. FATWA TENTANG JUAL BELI MATA UANG (AL-SHARF). Pertama. Ketentuan Umum Transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh dengan ketentuan sebagai berikut: a. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan). B. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan). C. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh). D. Apabila berlainan jenis Maka Harus Dilakukan Dengan Nilai Tukar (Kurs) Yang Berlaku Pada Saat Transaksi Dan Secara Tunai. Kedua. Jenis-jenis transaksi Valuta Asing a. Transaksi SPOT, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valuta Asing untuk penyerahan Pada saat itu (over the counter) atau penyelesaiannya paling Lambat dalam jangka Waktu dua Hari. Hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bis zum dihindari dan merupakan transaksi internasional. B. Transaksi VORWÄRTS, yaitu transaksi pembelian als penjualan valas yang nilainya ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan datang, antara 2x24 Marmelade sampai dengan satu tahun. Hukumnya adalah haram, karena harga Yang digunakan adalah harga Yang diperjanjikan (muwaadah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga Pada Waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai Yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk vorwärts Vereinbarung untuk kebutuhan Yang tidak dapat dihindari (lil Hajah). C. Transaksi SWAP yaitu suatu kontrak pembelischen atau penjualan valas dengan harga vorort yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga vorwärts. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi). d. Transaksi OPTION yaitu Kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka membeli atau hak untuk menjual Yang tidak Harus dilakukan atas sejumlah Einheit valuta Asing Pada harga dan jangka Waktu atau tanggal akhir tertentu. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi). Ketiga Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan von diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di. Jakarta Tanggal. 14 Muharram 1423 H 28 Maret 2002 M DEWAN SYARIAH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIEN 1. Die grundlegenden Börsenverträge Es besteht ein allgemeiner Konsens unter islamischen Juristen, dass Währungen von verschiedenen Ländern an einem Ort ausgetauscht werden können, der sich von der Einheit unterscheidet, Da Währungen von verschiedenen Ländern unterschiedliche Einheiten mit unterschiedlichen Werten oder eigenem Wert und Kaufkraft sind. Es scheint auch ein allgemeines Einverständnis der Mehrheit der Gelehrten zu geben, dass der Wechselkurs auf der Basis von Terminen nicht zulässig ist, dh wenn sich die Rechte und Pflichten beider Parteien auf einen zukünftigen Zeitpunkt beziehen. Es besteht jedoch ein beträchtlicher Meinungsunterschied zwischen Juristen, wenn die Rechte einer der Parteien, die mit der Verpflichtung der Gegenpartei identisch sind, auf einen späteren Zeitpunkt verschoben werden. Um zu erläutern, betrachten wir das Beispiel von zwei Individuen A und B, die zwei verschiedenen Ländern, Indien und den USA angehören. A beabsichtigt, indische Rupien zu verkaufen und US-Dollar zu kaufen. Das Umgekehrte gilt für B. Der vereinbarte Rupie-Dollar-Wechselkurs beträgt 1:20 und die Transaktion bezieht sich auf den Kauf und Verkauf von 50. Die erste Situation ist, dass A eine Spotzahlung von Rs1000 an B leistet und die Zahlung von 50 aus B akzeptiert Die Transaktion wird von beiden Seiten punktuell abgewickelt. Solche Geschäfte sind gültig und islamisch zulässig. Es gibt keine zwei Meinungen über das gleiche. Die zweite Möglichkeit ist, dass die Abwicklung der Transaktion von beiden Seiten auf ein zukünftiges Datum, z. B. nach sechs Monaten, verzögert wird. Dies impliziert, dass sowohl A als auch B die Zahlung von Rs1000 oder 50, je nach Fall, nach sechs Monaten annehmen und akzeptieren. Die vorherrschende Ansicht ist, dass ein solcher Vertrag islamisch nicht zulässig ist. Eine Minderheit betrachtet es als zulässig. Das dritte Szenario ist, dass die Transaktion teilweise nur von einem Ende abgerechnet wird. Zum Beispiel macht A eine Zahlung von Rs1000 jetzt an B anstatt eines Versprechens von B zu zahlen 50 zu ihm nach sechs Monaten. Alternativ akzeptiert A jetzt 50 von B und verspricht, Rs1000 an ihn nach sechs Monaten zu zahlen. Es gibt diametral entgegengesetzte Ansichten über die Zulässigkeit solcher Verträge, die Bai-Salam in Währungen darstellen. Der Zweck dieser Arbeit ist es, eine umfassende Analyse der verschiedenen Argumente und der Zulässigkeit dieser Basisverträge mit Währungen vorzulegen. Die erste Form des Kontrahierens, die den Austausch von Gegenwerten an Ort und Stelle einschließt, ist jenseits aller Kontroversen. Zulässigkeit oder anderweitig der zweite Vertragstyp, bei dem die Lieferung eines der Gegenwerte auf ein zukünftiges Datum verschoben wird, wird im Rahmen des Riba-Verbots allgemein diskutiert. Dementsprechend diskutieren wir diesen Vertrag in Abschnitt 2, der sich mit der Frage des Verbots von Riba befasst. Die Zulässigkeit der dritten Vertragsform, bei der die Lieferung der beiden Gegenwerte verzögert wird, wird im Rahmen der Verringerung von Risiken und Unsicherheiten oder gharar, die an solchen Verträgen beteiligt sind, diskutiert. Dies ist daher das zentrale Thema von Abschnitt 3, der sich mit der Frage von Gharar beschäftigt. Abschnitt 4 versucht eine ganzheitliche Betrachtung der Scharia sowie die ökonomische Bedeutung der Grundformen des Vertragsverhältnisses auf dem Devisenmarkt. 2. Die Herausgabe von Riba-Prohibition Die Abweichung von Ansichten1 über die Zulässigkeit oder anderweitig von Devisentermingeschäften kann in erster Linie auf die Frage des Riba-Verbots zurückgeführt werden. Die Notwendigkeit, Riba in allen Formen von Austauschverträgen zu beseitigen, ist von größter Wichtigkeit. Riba in ihrem Scharia-Kontext ist in der Regel definiert als ein unzulässiger Gewinn, der sich aus der quantitativen Ungleichung der Gegenwerte bei jeder Transaktion ergibt, die den Austausch von zwei oder mehr Arten (anwa) bewirkt, die zu derselben Gattung gehören Die gleiche effiziente Ursache (illa). Riba wird im Allgemeinen in Riba al-fadl (Exzess) und Riba al-Nasia (Stundung) klassifiziert, die einen unzulässigen Vorteil durch Überschuss oder Stundung bezeichnen. Verbot der ersteren wird durch eine Bestimmung erreicht, dass der Wechselkurs zwischen den Objekten einheitlich ist und kein Gewinn für jede Partei zulässig ist. Die letztgenannte Art von Riba ist verboten, indem sie eine aufgeschobene Vereinbarung verweigert und sicherstellt, dass die Transaktion von beiden Parteien an Ort und Stelle abgewickelt wird. Eine andere Form von Riba heißt Riba al-jahiliyya oder vorislamischen Riba, die Oberflächen, wenn der Kreditgeber fragt den Kreditnehmer am Fälligkeitstag, wenn die letztere würde die Schuld begleichen oder erhöhen die gleiche. Die Zunahme ist begleitet von Zinsen auf den ursprünglich geliehenen Betrag. Das Verbot der Riba im Währungsaustausch verschiedener Länder erfordert einen Analogieprozeß (qiyas). Und in einer solchen Übung mit Analogie (qiyas) spielt die effiziente Ursache (illa) eine äußerst wichtige Rolle. Es ist eine gemeinsame effiziente Ursache (illa), die das Objekt der Analogie mit seinem Subjekt, in der Ausübung der analogen Argumentation verbindet. Die geeignete effiziente Ursache (illa) im Falle von Austauschverträgen wurde von den großen Schulen von Fiqh unterschiedlich definiert. Dieser Unterschied spiegelt sich in der analogen Begründung für Papierwährungen verschiedener Länder wider. Eine für die analoge Argumentation bedeutsame Frage bezieht sich auf den Vergleich zwischen den Papierwährungen mit Gold und Silber. In den frühen Tagen des Islam vollbrachten Gold und Silber alle Funktionen des Geldes (Thaman). Währungen wurden aus Gold und Silber mit einem bekannten intrinsischen Wert (Quantum von Gold oder Silber in ihnen enthalten) gemacht. Solche Währungen werden als thaman haqiqi oder naqdain in der Fiqh-Literatur beschrieben. Diese waren allgemein akzeptabel als Haupttauschmittel, das für einen großen Teil der Transaktionen verantwortlich war. Viele andere Güter, wie verschiedene minderwertige Metalle dienten auch als Austauschmittel, aber mit begrenzter Akzeptanz. Diese werden als fals in Fiqh Literatur beschrieben. Diese sind auch als thaman istalahi bekannt, weil ihre Akzeptabilität nicht aus ihrem intrinsischen Wert, sondern aufgrund des Status hervorgeht, den die Gesellschaft in einem bestimmten Zeitraum eingeräumt hat. Die obigen beiden Währungsformen wurden von früh islamischen Juristen unter dem Gesichtspunkt der Zulässigkeit von Verträgen, die sie betreffen, sehr unterschiedlich behandelt. Die Frage, die gelöst werden muss, ist, ob die derzeitigen Papierwährungen unter die ehemalige Kategorie fallen oder diese. Eine Ansicht ist, dass diese mit thaman haqiqi oder Gold und Silber gleich behandelt werden sollten, da diese als das hauptsächliche Tauschmittel und Recheneinheit wie dieses dienen. Nach alledem sollten also alle für thaman haqiqi geltenden schariabezogenen Normen und Verordnungen auch auf Papierwährung anwendbar sein. Der Austausch von thaman haqiqi ist als bai-sarf bekannt, weshalb die Transaktionen in Papierwährungen durch die für bai-sarf relevanten Scharia-Regeln geregelt werden sollten. Die gegenteilige Ansicht behauptet, daß Papierwährungen in ähnlicher Weise wie Fals oder Thaman Istalahi behandelt werden sollten, weil sich ihr Nennwert von ihrem eigentlichen Wert unterscheide. Ihre Akzeptanz beruht auf ihrer rechtlichen Stellung im Inland oder der weltwirtschaftlichen Bedeutung (zB im Fall von US-Dollar). 2.1. Eine Synthese alternativer Ansichten 2.1.1. Analoges Argumentieren (Qiyas) für Riba Verbot Das Verbot der Riba basiert auf der Tradition, die der heilige Prophet (Friede sei mit ihm) sagte: Verkaufe Gold für Gold, Silber für Silber, Weizen für Weizen, Gerste für Gerste, Salz für Salz, in gleichen Mengen auf der Stelle und wenn die Waren unterschiedlich sind, verkaufen, wie es zu Ihnen passt, aber auf der Stelle. So gilt das Verbot der Rippe vor allem für die beiden Edelmetalle (Gold und Silber) und vier weitere Rohstoffe (Weizen, Gerste, Datteln und Salz). Sie gilt nach Analogie (qiyas) für alle Arten, die durch dieselbe effiziente Ursache (illa) beherrscht werden oder zu einer der Gattungen der sechs in der Tradition zitierten Gegenstände gehören. Jedoch gibt es keine allgemeine Vereinbarung zwischen den verschiedenen Schulen von Fiqh und sogar Gelehrte, die zur gleichen Schule auf der Definition und der Identifikation der leistungsfähigen Ursache (illa) von Riba gehören. Für die Hanafis hat die effiziente Ursache (illa) der Riba zwei Dimensionen: Die ausgetauschten Gegenstände gehören zu derselben Gattung (jins), die über Gewicht (Wazan) oder Meßbarkeit (Kiliyya) verfügen. Wenn in einem gegebenen Austausch beide Elemente der effizienten Ursache (illa) vorhanden sind, dh die ausgetauschten Gegenwerte derselben Gattung (jins) angehören und alle abwiegen oder alle messbar sind, dann ist kein Gewinn zulässig (der Wechselkurs muss Gleich 1) und der Austausch muss vor Ort erfolgen. Im Falle von Gold und Silber, die beiden Elemente der effizienten Ursache (illa) sind: Einheit der Gattung (jins) und die Gewichtbarkeit. Dies ist auch die Hanbali-Ansicht nach einer Version3. (Eine andere Version ähnelt der Ansicht von Shafii und Maliki, wie unten diskutiert wird.) Wenn also Gold gegen Gold ausgetauscht wird oder Silber gegen Silber ausgetauscht wird, sind nur Kassageschäfte ohne Gewinn möglich. Es ist auch möglich, dass in einem gegebenen Austausch eines der beiden Elemente der effizienten Ursache (illa) vorhanden ist und das andere nicht vorhanden ist. Wenn zum Beispiel die ausgetauschten Gegenstände alle wiegen oder meßbar sind, aber zu verschiedenen Gattungen gehören (jins), oder, wenn die ausgetauschten Gegenstände zu derselben Gattung gehören (jins), aber weder wägbar noch meßbar sind, dann Austausch mit Gewinn (mit einer Rate, Einheit) ist zulässig, aber der Austausch muss vor Ort erfolgen. Wenn also Gold gegen Silber ausgetauscht wird, kann die Rate von der Einheit abweichen, aber keine verzögerte Abrechnung ist zulässig. Wenn keines der beiden Elemente der effizienten Ursache (illa) der Riba in einer gegebenen Vermittlungsstelle vorhanden ist, gilt keine der Unterlassungsverfügungen für das Rippenverbot. Der Umtausch kann mit oder ohne Gewinn erfolgen, und zwar sowohl punktuell als auch aufgeschoben. In Anbetracht des Falles des Austauschs von Papierwährungen, die zu verschiedenen Ländern gehören, würde das Ribverbot eine Suche nach einer effizienten Ursache (illa) erfordern. Währungen, die verschiedenen Ländern angehören, sind klar voneinander getrennte Einheiten, die gesetzliches Zahlungsmittel innerhalb bestimmter geografischer Grenzen mit unterschiedlichem Wert oder Kaufkraft sind. Daher kann eine große Mehrheit der Gelehrten zu Recht behaupten, dass es keine Einheit der Gattung (jins) gibt. Darüber hinaus sind diese weder wägbar noch messbar. Dies führt zu einer direkten Schlussfolgerung, dass keines der beiden Elemente der effizienten Ursache (illa) der Riba in einem solchen Austausch existiert. Der Umtausch kann also frei von jeglichen Verfügungen über den Wechselkurs und die Art der Abwicklung erfolgen. Die Logik, die dieser Position zugrunde liegt, ist nicht schwer zu verstehen. Der innere Wert von Papierwährungen, die verschiedenen Ländern angehören, unterscheiden sich, da diese unterschiedliche Kaufkraft haben. Zusätzlich kann der innere Wert oder Wert von Papierwährungen nicht identifiziert oder beurteilt werden, anders als Gold und Silber, die gewogen werden können. Daher kann weder die Anwesenheit von riba al-fadl (durch Überschuss) noch riba al-nasia (durch Deferment) festgestellt werden. Die Shafii Schule von Fiqh betrachtet die effiziente Ursache (illa) im Falle des Goldes und des Silbers, um ihr Eigentum des Wesens (thamaniyya) oder des Tauschmittels, der Rechnungseinheit und des Wertschatzes zu sein. Dies ist auch die Maliki-Ansicht. Nach einer Version dieser Ansicht, auch wenn Papier oder Leder zum Tauschmedium gemacht wird und den Status der Währung erhält, gelten dann alle Regelungen für Naqdain oder Gold und Silber. So ist nach dieser Fassung der Austausch, der Währungen verschiedener Länder mit einer von der Einheit verschiedenen Rate umfaßt, zulässig, muß aber vor Ort abgewickelt werden. Eine andere Version der obigen zwei Denkschulen ist, dass die oben zitierte effiziente Ursache (illa) der Währung (thamaniyya) für Gold und Silber spezifisch ist und nicht verallgemeinert werden kann. Das heißt, jedes andere Objekt, wenn es als Austauschmedium verwendet wird, kann nicht in seine Kategorie aufgenommen werden. Daher sind nach dieser Fassung die Schariaerlasse für das Ribverbot nicht auf Papierwährungen anwendbar. Währungen, die verschiedenen Ländern angehören, können mit oder ohne Gewinn ausgetauscht werden, und zwar sowohl punktuell als auch aufgeschoben. Die Befürworter der früheren Version zitieren den Fall des Austausches von Papierwährungen, die zum selben Land gehören, um ihre Version zu verteidigen. Die Konsensus-Meinung der Juristen in diesem Fall ist, dass diese Austausch muss ohne Gewinn oder mit einer Rate gleich der Einheit und muss auf einer Stelle abgewickelt werden. Was ist der Grundgedanke der obigen Entscheidung Wenn man die Hanafi und die erste Version der Hanbali-Position betrachtet, dann ist in diesem Fall nur eine Dimension der effizienten Ursache (illa) vorhanden, dh sie gehören zu derselben Gattung (jins ). Aber Papierwährungen sind weder wägbar noch messbar. Daher würde das Hanafi-Gesetz anscheinend den Austausch von verschiedenen Mengen derselben Währung vor Ort erlauben. Ebenso, wenn die effiziente Ursache der Währung (thamaniyya) nur für Gold und Silber spezifisch ist, dann gestatten auch Shafii und Maliki das gleiche. Unnötig zu sagen, dies zu ermöglichen, Rib-basierte Kreditaufnahme und Kreditvergabe. Dies zeigt, dass es die erste Version des Shafii und Maliki-Gedankens ist, die dem Konsensentscheid des Verbots des Gewinns und der aufgeschobenen Regelung im Falle des Austauschs von Währungen des gleichen Landes zugrunde liegt. Nach Ansicht der Befürworter würde die Ausweitung dieser Logik auf den Austausch von Währungen verschiedener Länder implizieren, dass Austausch mit Gewinn oder mit einer von der Einheit verschiedenen Rate zulässig ist (da es keine Einheit von jins), aber die Abrechnung muss an Ort und Stelle erfolgen. 2.1.2 Vergleich zwischen Devisenumtausch und Bai-Sarf Der Bai-Schatz ist in der Fiqh-Literatur als eine Börse mit thaman haqiqi definiert, die als Gold und Silber definiert ist und als Hauptmedium für nahezu alle großen Transaktionen diente. Die Befürworter der Ansicht, dass jeder Austausch von Währungen von verschiedenen Ländern ist die gleiche wie bai-sarf argumentieren, dass im gegenwärtigen Zeitalter Papier Währungen haben wirksam und vollständig ersetzt Gold und Silber als das Medium des Austauschs. Daher sollte der Austausch, der solche Währungen einbezieht, durch die gleichen Scharia-Regeln und Unterlassungsanordnungen wie bai-sarf geregelt werden. Es wird auch argumentiert, dass, wenn eine aufgeschobene Abwicklung durch beide Vertragsparteien zulässig ist, dies die Möglichkeiten der Riba-al-Nasia eröffnet. Gegner der Kategorisierung der Wechselkurse mit bai-sarf weisen jedoch darauf hin, dass der Austausch aller Währungsformen (Thaman) nicht als Bai-Scharf bezeichnet werden kann. Nach dieser Ansicht bedeutet bai-sarf den Austausch von Währungen aus Gold und Silber (thaman haqiqi oder naqdain) allein und nicht von Geld, die als solche von den staatlichen Behörden (thaman istalahi) ausgesprochen wurden. Die gegenwärtigen Alterswährungen sind Beispiele der letzteren Art. Diese Gelehrten finden Unterstützung in jenen Schriften, die behaupten, daß, wenn die Waren des Tausches nicht Gold oder Silber sind, (auch wenn einer von ihnen Gold oder Silber ist), dann kann die Börse nicht als Bai-Schal bezeichnet werden. Auch die Bestimmungen über bai-sarf gelten nicht für solche Börsen. Laut Imam Sarakhsi4 kauft eine Einzelperson Fals oder Münzen aus untergeordneten Metallen, wie Kupfer (thaman istalahi) für Dirhams (thaman haqiqi) und macht eine Spotzahlung der letzteren, aber der Verkäufer hat keine Fals in diesem Moment , So ist ein solcher Austausch zulässig. Die von beiden Parteien ausgetauscht werden, ist keine Voraussetzung (im Fall von bai-sarf). Es gibt eine Reihe ähnlicher Referenzen, die darauf hindeuten, dass Juristen den Austausch von Fals (Thaman istalahi) nicht für andere Fals Thaman istalahi) oder Gold oder Silber (thaman haqiqi), als bai-Schal. Daher kann der Austausch von Währungen von zwei verschiedenen Ländern, die nur als thaman istalahi qualifizieren können, nicht als bai-sarf kategorisiert werden. Ebenso wenig kann die Einschränkung der Spotabrechnung auf solche Geschäfte angewendet werden. Hier ist anzumerken, daß die Definition des Bai-Scharfs fiktiv ist und in den heiligen Traditionen nicht erwähnt wird. Die Traditionen erwähnen Riba, und der Verkauf und Kauf von Gold und Silber (naqdain), die eine Hauptquelle der Riba sein kann, wird von den islamischen Juristen als Bai-Scharf bezeichnet. Es ist auch anzumerken, daß bai-scharf in der Fiqh-Literatur nur den Austausch von Gold oder Silber impliziert, ob diese gegenwärtig als Tauschmittel verwendet werden oder nicht. Austausch mit Dinaren und Goldschmuck, beide Qualität als Bai-Schal. Verschiedene Juristen haben versucht, diesen Punkt zu klären und haben definiert Scharf als jener Austausch, in dem beide ausgetauschten Waren in der Natur von Thaman, nicht notwendigerweise thaman selbst sind. Daher wird, auch wenn eine der Waren Gold verarbeitet wird (z. B. Ornamente), dieser Austausch bai-sarf genannt. Die Befürworter der Ansicht, dass die Devisenbörse in ähnlicher Weise wie bai-sarf behandelt werden sollte, stammen auch von Schriften namhafter islamistischer Juristen. Nach Imam Ibn Taimiya heißt alles, was die Funktionen des Tauschmittels, der Rechnungseinheit und des Wertschatzes erfüllt, als Thaman (nicht unbedingt auf Goldampersilber beschränkt). Ähnliche Schriftsätze gibt es in den Schriften von Imam Ghazzali5 Soweit die Ansichten von Imam Sarakhshi über den Austausch mit Fals betroffen sind, müssen nach ihnen einige zusätzliche Punkte zur Kenntnis genommen werden. In den frühen Tagen des Islam wurden Dinare und Dirhams aus Gold und Silber meist als Tauschmittel in allen wichtigen Transaktionen verwendet. Nur die Kleinen wurden mit Fals besiedelt. Mit anderen Worten, Fals hatte nicht die Eigenschaften des Geldes oder thamaniyya in vollem Umfang und wurde kaum verwendet, als Wert des Wertes oder Rechnungseinheit und war mehr in der Natur der Ware. Daher gab es keine Beschränkung für den Erwerb derselben für Gold und Silber auf verzögerter Basis. Die heutigen Währungen haben alle Merkmale von Thaman und sollen nur Thaman sein. Die Börse mit Währungen von verschiedenen Ländern ist die gleiche wie bai-Schal mit Unterschied der jins und damit, aufgeschoben Abrechnung würde zu riba al-Nasia führen. Dr. Mohamed Nejatullah Siddiqui illustriert diese Möglichkeit mit einem Beispiel6. Er schreibt zu einem bestimmten Zeitpunkt, wenn der Markt Wechselkurs zwischen Dollar und Rupie ist 1:20, wenn eine Einzelperson kauft 50 im Verhältnis zu 1:22 (Abwicklung seiner Verpflichtung in Rupien aufgeschoben auf ein zukünftiges Datum), dann Es ist sehr wahrscheinlich, daß er ist. In der Tat, Kreditaufnahme Rs. 1000 an Stelle eines Versprechens, Rs zurückzuzahlen. 1100 zu einem bestimmten späteren Zeitpunkt. (Seitdem kann er Rs 1000 jetzt erhalten, Austausch der 50 auf Kredite zu Kassakurs gekauft werden) So kann Schand in zinsbasierte Kreditvergabe Kredite umgewandelt werden. 2.1.3 Definition von Thamaniyya ist der Schlüssel Es scheint aus der obigen Synthese der alternativen Ansichten, dass die wichtigste Frage scheint eine korrekte Definition von thamaniyya zu sein scheint. Zum Beispiel, eine grundlegende Frage, die zu divergierenden Positionen auf Zulässigkeit führt, bezieht sich auf, ob Thamaniyya ist spezifisch für Gold und Silber oder kann mit allem, was die Funktionen des Geldes führt zugeordnet werden. Wir heben einige Fragen auf, die bei jeder Übung bei der Überprüfung alternativer Positionen berücksichtigt werden können. Es sollte beachtet werden, dass Thamaniyya nicht absolut sein kann und in Grad variieren kann. Es ist wahr, daß Papierwährungen vollständig Gold und Silber als Tauschmittel, Recheneinheit und Wertschöpfung ersetzt haben. In diesem Sinne kann man sagen, Papier Währungen thamaniyya besitzen. Dies gilt jedoch nur für inländische Währungen und gilt möglicherweise nicht für Fremdwährungen. Mit anderen Worten, indische Rupien besitzen thamaniyya innerhalb der geographischen Grenzen von Indien nur, und haben keine Akzeptanz in den USA. Diese können nicht gesagt werden, thamaniyya in US zu besitzen, es sei denn, ein US-Bürger kann indische Rupien als Medium der Tausch-, oder Rechnungseinheit oder Wertschöpfung verwenden. In den meisten Fällen ist eine solche Möglichkeit fern. Diese Möglichkeit ist auch eine Funktion des Wechselkursmechanismus, wie etwa der Konvertibilität indischer Rupien in US-Dollar, und ob ein festes oder ein variables Wechselkurssystem vorhanden ist. Angenommen, die freie Umwandelbarkeit der indischen Rupien in US-Dollar und umgekehrt und ein fester Wechselkurs, bei dem der Rupien-Dollar-Wechselkurs in absehbarer Zeit nicht voraussichtlich ansteigen oder fallen wird, wird Thamaniyya von Rupie in den USA erheblich verbessert . Auch das von Dr. Nejatullah Siddiqui zitierte Beispiel erscheint unter den gegebenen Umständen ziemlich robust. Die Ermächtigung zum Austausch von Rupien für Dollar auf einer verzögerten Basis (von einem Ende, natürlich) zu einem von dem Kassakurs abweichenden Satz (offizieller Kurs, der voraussichtlich bis zum Abrechnungszeitpunkt beibehalten wird) wäre ein klarer Fall von Zinsbindungen Kreditaufnahme und Kreditvergabe. Wenn jedoch die Annahme eines festen Wechselkurses entspannt ist und das gegenwärtige System der fluktuierenden und volatilen Wechselkurse als der Fall angenommen wird, dann kann gezeigt werden, dass der Fall der Riba-Al-Nasia ausfällt. We rewrite his example: In a given moment in time when the market rate of exchange between dollar and rupee is 1:20, if an individual purchases 50 at the rate of 1:22 (settlement of his obligation in rupees deferred to a future date), then it is highly probable that he is. in fact, borrowing Rs. 1000 now in lieu of a promise to repay Rs. 1100 on a specified later date. (Since, he can obtain Rs 1000 now, exchanging the 50 purchased on credit at spot rate) This would be so, only if the currency risk is non-existent (exchange rate remains at 1:20), or is borne by the seller of dollars (buyer repays in rupees and not in dollars). If the former is true, then the seller of the dollars (lender) receives a predetermined return of ten percent when he converts Rs1100 received on the maturity date into 55 (at an exchange rate of 1:20). However, if the latter is true, then the return to the seller (or the lender) is not predetermined. It need not even be positive. For example, if the rupee-dollar exchange rate increases to 1:25, then the seller of dollar would receive only 44 (Rs 1100 converted into dollars) for his investment of 50. Here two points are worth noting. First, when one assumes a fixed exchange rate regime, the distinction between currencies of different countries gets diluted. The situation becomes similar to exchanging pounds with sterlings (currencies belonging to the same country) at a fixed rate. Second, when one assumes a volatile exchange rate system, then just as one can visualize lending through the foreign currency market (mechanism suggested in the above example), one can also visualize lending through any other organized market (such as, for commodities or stocks.) If one replaces dollars for stocks in the above example, it would read as: In a given moment in time when the market price of stock X is Rs 20, if an individual purchases 50 stocks at the rate of Rs 22 (settlement of his obligation in rupees deferred to a future date), then it is highly probable that he is. in fact, borrowing Rs. 1000 now in lieu of a promise to repay Rs. 1100 on a specified later date. (Since, he can obtain Rs 1000 now, exchanging the 50 stocks purchased on credit at current price) In this case too as in the earlier example, returns to the seller of stocks may be negative if stock price rises to Rs 25 on the settlement date. Hence, just as returns in the stock market or commodity market are Islamically acceptable because of the price risk, so are returns in the currency market because of fluctuations in the prices of currencies. A unique feature of thaman haqiqi or gold and silver is that the intrinsic worth of the currency is equal to its face value. Thus, the question of different geographical boundaries within which a given currency, such as, dinar or dirham circulates, is completely irrelevant. Gold is gold whether in country A or country B. Thus, when currency of country A made of gold is exchanged for currency of country B, also made of gold, then any deviation of the exchange rate from unity or deferment of settlement by either party cannot be permitted as it would clearly involve riba al-fadl and also riba al-nasia. However, when paper currencies of country A is exchanged for paper currency of country B, the case may be entirely different. The price risk (exchange rate risk), if positive, would eliminate any possibility of riba al-nasia in the exchange with deferred settlement. However, if price risk (exchange rate risk) is zero, then such exchange could be a source of riba al-nasia if deferred settlement is permitted7. Another point that merits serious consideration is the possibility that certain currencies may possess thamaniyya, that is, used as a medium of exchange, unit of account, or store of value globally, within the domestic as well as foreign countries. For instance, US dollar is legal tender within US it is also acceptable as a medium of exchange or unit of account for a large volume of transactions across the globe. Thus, this specific currency may be said to possesses thamaniyya globally, in which case, jurists may impose the relevant injunctions on exchanges involving this specific currency to prevent riba al-nasia. The fact is that when a currency possesses thamaniyya globally, then economic units using this global currency as the medium of exchange, unit of account or store of value may not be concerned about risk arising from volatility of inter-country exchange rates. At the same time, it should be recognized that a large majority of currencies do not perform the functions of money except within their national boundaries where these are legal tender. Riba and risk cannot coexist in the same contract. The former connotes a possibility of returns with zero risk and cannot be earned through a market with positive price risk. As has been discussed above, the possibility of riba al-fadl or riba al-nasia may arise in exchange when gold or silver function as thaman or when the exchange involves paper currencies belonging to the same country or when the exchange involves currencies of different countries following a fixed exchange rate system. The last possibility is perhaps unIslamic8 since price or exchange rate of currencies should be allowed to fluctuate freely in line with changes in demand and supply and also because prices should reflect the intrinsic worth or purchasing power of currencies. The foreign currency markets of today are characterised by volatile exchange rates. The gains or losses made on any transaction in currencies of different countries, are justified by the risk borne by the parties to the contract. 2.1.4. Possibility of Riba with Futures and Forwards So far, we have discussed views on the permissibility of bai salam in currencies, that is, when the obligation of only one of the parties to the exchange is deferred. What are the views of scholars on deferment of obligations of both parties. Typical example of such contracts are forwards and futures9. According to a large majority of scholars, this is not permissible on various grounds, the most important being the element of risk and uncertainty (gharar) and the possibility of speculation of a kind which is not permissible. This is discussed in section 3. However, another ground for rejecting such contracts may be riba prohibition. In the preceding paragraph we have discussed that bai salam in currencies with fluctuating exchange rates can not be used to earn riba because of the presence of currency risk. It is possible to demonstrate that currency risk can be hedged or reduced to zero with another forward contract transacted simultaneously. And once risk is eliminated, the gain clearly would be riba. We modify and rewrite the same example: In a given moment in time when the market rate of exchange between dollar and rupee is 1:20, an individual purchases 50 at the rate of 1:22 (settlement of his obligation in rupees deferred to a future date), and the seller of dollars also hedges his position by entering into a forward contract to sell Rs1100 to be received on the future date at a rate of 1:20, then it is highly probable that he is. in fact, borrowing Rs. 1000 now in lieu of a promise to repay Rs. 1100 on a specified later date. (Since, he can obtain Rs 1000 now, exchanging the 50 dollars purchased on credit at spot rate) The seller of the dollars (lender) receives a predetermined return of ten percent when he converts Rs1100 received on the maturity date into 55 dollars (at an exchange rate of 1:20) for his investment of 50 dollars irrespective of the market rate of exchange prevailing on the date of maturity. Another simple possible way to earn riba may even involve a spot transaction and a simultaneous forward transaction. For example, the individual in the above example purchases 50 on a spot basis at the rate of 1:20 and simultaneously enters into a forward contract with the same party to sell 50 at the rate of 1:21 after one month. In effect this implies that he is lending Rs1000 now to the seller of dollars for one month and earns an interest of Rs50 (he receives Rs1050 after one month. This is a typical buy-back or repo (repurchase) transaction so common in conventional banking.10 3. The Issue of Freedom from Gharar 3.1 Defining Gharar Gharar, unlike riba, does not have a consensus definition. In broad terms, it connotes risk and uncertainty. It is useful to view gharar as a continuum of risk and uncertainty wherein the extreme point of zero risk is the only point that is well-defined. Beyond this point, gharar becomes a variable and the gharar involved in a real life contract would lie somewhere on this continuum. Beyond a point on this continuum, risk and uncertainty or gharar becomes unacceptable11. Jurists have attempted to identify such situations involving forbidden gharar. A major factor that contributes to gharar is inadequate information (jahl) which increases uncertainty. This is when the terms of exchange, such as, price, objects of exchange, time of settlement etc. are not well-defined. Gharar is also defined in terms of settlement risk or the uncertainty surrounding delivery of the exchanged articles. Islamic scholars have identified the conditions which make a contract uncertain to the extent that it is forbidden. Each party to the contract must be clear as to the quantity, specification, price, time, and place of delivery of the contract. A contract, say, to sell fish in the river involves uncertainty about the subject of exchange, about its delivery, and hence, not Islamically permissible. The need to eliminate any element of uncertainty inherent in a contract is underscored by a number of traditions.12 An outcome of excessive gharar or uncertainty is that it leads to the possibility of speculation of a variety which is forbidden. Speculation in its worst form, is gambling. The holy Quran and the traditions of the holy prophet explicitly prohibit gains made from games of chance which involve unearned income. The term used for gambling is maisir which literally means getting something too easily, getting a profit without working for it. Apart from pure games of chance, the holy prophet also forbade actions which generated unearned incomes without much productive efforts.13 Here it may be noted that the term speculation has different connotations. It always involves an attempt to predict the future outcome of an event. But the process may or may not be backed by collection, analysis and interpretation of relevant information. The former case is very much in conformity with Islamic rationality. An Islamic economic unit is required to assume risk after making a proper assessment of risk with the help of information. All business decisions involve speculation in this sense. It is only in the absence of information or under conditions of excessive gharar or uncertainty that speculation is akin to a game of chance and is reprehensible. 3.2 Gharar amp Speculation with of Futures amp Forwards Considering the case of the basic exchange contracts highlighted in section 1, it may be noted that the third type of contract where settlement by both the parties is deferred to a future date is forbidden, according to a large majority of jurists on grounds of excessive gharar. Futures and forwards in currencies are examples of such contracts under which two parties become obliged to exchange currencies of two different countries at a known rate at the end of a known time period. For example, individuals A and B commit to exchange US dollars and Indian rupees at the rate of 1: 22 after one month. If the amount involved is 50 and A is the buyer of dollars then, the obligations of A and B are to make a payments of Rs1100 and 50 respectively at the end of one month. The contract is settled when both the parties honour their obligations on the future date. Traditionally, an overwhelming majority of Sharia scholars have disapproved such contracts on several grounds. The prohibition applies to all such contracts where the obligations of both parties are deferred to a future date, including contracts involving exchange of currencies. An important objection is that such a contract involves sale of a non-existent object or of an object not in the possession of the seller. This objection is based on several traditions of the holy prophet.14 There is difference of opinion on whether the prohibition in the said traditions apply to foodstuffs, or perishable commodities or to all objects of sale. There is, however, a general agreement on the view that the efficient cause (illa) of the prohibition of sale of an object which the seller does not own or of sale prior to taking possession is gharar, or the possible failure to deliver the goods purchased. Is this efficient cause (illa) present in an exchange involving future contracts in currencies of different countries. In a market with full and free convertibility or no constraints on the supply of currencies, the probability of failure to deliver the same on the maturity date should be no cause for concern. Further, the standardized nature of futures contracts and transparent operating procedures on the organized futures markets15 is believed to minimize this probability. Some recent scholars have opined in the light of the above that futures, in general, should be permissible. According to them, the efficient cause (illa), that is, the probability of failure to deliver was quite relevant in a simple, primitive and unorganized market. It is no longer relevant in the organized futures markets of today16. Such contention, however, continues to be rejected by the majority of scholars. They underscore the fact that futures contracts almost never involve delivery by both parties. On the contrary, parties to the contract reverse the transaction and the contract is settled in price difference only. For example, in the above example, if the currency exchange rate changes to 1: 23 on the maturity date, the reverse transaction for individual A would mean selling 50 at the rate of 1:23 to individual B. This would imply A making a gain of Rs50 (the difference between Rs1150 and Rs1100). This is exactly what B would lose. It may so happen that the exchange rate would change to 1:21 in which case A would lose Rs50 which is what B would gain. This obviously is a zero-sum game in which the gain of one party is exactly equal to the loss of the other. This possibility of gains or losses (which theoretically can touch infinity) encourages economic units to speculate on the future direction of exchange rates. Since exchange rates fluctuate randomly, gains and losses are random too and the game is reduced to a game of chance. There is a vast body of literature on the forecastability of exchange rates and a large majority of empirical studies have provided supporting evidence on the futility of any attempt to make short-run predictions. Exchange rates are volatile and remain unpredictable at least for the large majority of market participants. Needless to say, any attempt to speculate in the hope of the theoretically infinite gains is, in all likelihood, a game of chance for such participants. While the gains, if they materialize, are in the nature of maisir or unearned gains, the possibility of equally massive losses do indicate a possibility of default by the loser and hence, gharar. 3.3. Risk Management in Volatile Markets Hedging or risk reduction adds to planning and managerial efficiency. The economic justification of futures and forwards is in term of their role as a device for hedging. In the context of currency markets which are characterized by volatile rates, such contracts are believed to enable the parties to transfer and eliminate risk arising out of such fluctuations. For example, modifying the earlier example, assume that individual A is an exporter from India to US who has already sold some commodities to B, the US importer and anticipates a cashflow of 50 (which at the current market rate of 1:22 mean Rs 1100 to him) after one month. There is a possibility that US dollar may depreciate against Indian rupee during these one month, in which case A would realize less amount of rupees for his 50 ( if the new rate is 1:21, A would realize only Rs1050 ). Hence, A may enter into a forward or future contract to sell 50 at the rate of 1:21.5 at the end of one month (and thereby, realize Rs1075) with any counterparty which, in all probability, would have diametrically opposite expectations regarding future direction of exchange rates. In this case, A is able to hedge his position and at the same time, forgoes the opportunity of making a gain if his expectations do not materialize and US dollar appreciates against Indian rupee (say, to 1:23 which implies that he would have realized Rs1150, and not Rs1075 which he would realize now.) While hedging tools always improve planning and hence, performance, it should be noted that the intention of the contracting party - whether to hedge or to speculate, can never be ascertained. It may be noted that hedging can also be accomplished with bai salam in currencies. As in the above example, exporter A anticipating a cash inflow of 50 after one month and expecting a depreciation of dollar may go for a salam sale of 50 (with his obligation to pay 50 deferred by one month.) Since he is expecting a dollar depreciation, he may agree to sell 50 at the rate of 1: 21.5. There would be an immediate cash inflow in Rs 1075 for him. The question may be, why should the counterparty pay him rupees now in lieu of a promise to be repaid in dollars after one month. As in the case of futures, the counterparty would do so for profit, if its expectations are diametrically opposite, that is, it expects dollar to appreciate. For example, if dollar appreciates to 1: 23 during the one month period, then it would receive Rs1150 for Rs 1075 it invested in the purchase of 50. Thus, while A is able to hedge its position, the counterparty is able to earn a profit on trading of currencies. The difference from the earlier scenario is that the counterparty would be more restrained in trading because of the investment required, and such trading is unlikely to take the shape of rampant speculation. 4. Summary amp Conclusion Currency markets of today are characterized by volatile exchange rates. This fact should be taken note of in any analysis of the three basic types of contracts in which the basis of distinction is the possibility of deferment of obligations to future. We have attempted an assessment of these forms of contracting in terms of the overwhelming need to eliminate any possibility of riba, minimize gharar, jahl and the possibility of speculation of a kind akin to games of chance. In a volatile market, the participants are exposed to currency risk and Islamic rationality requires that such risk should be minimized in the interest of efficiency if not reduced to zero. It is obvious that spot settlement of the obligations of both parties would completely prohibit riba, and gharar, and minimize the possibility of speculation. However, this would also imply the absence of any technique of risk management and may involve some practical problems for the participants. At the other extreme, if the obligations of both the parties are deferred to a future date, then such contracting, in all likelihood, would open up the possibility of infinite unearned gains and losses from what may be rightly termed for the majority of participants as games of chance. Of course, these would also enable the participants to manage risk through complete risk transfer to others and reduce risk to zero. It is this possibility of risk reduction to zero which may enable a participant to earn riba. Future is not a new form of contract. Rather the justification for proscribing it is new. If in a simple primitive economy, it was prevention of gharar relating to delivery of the exchanged article, in todays complex financial system and organized exchanges, it is prevention of speculation of kind which is unIslamic and which is possible under excessive gharar involved in forecasting highly volatile exchange rates. Such speculation is not just a possibility, but a reality. The precise motive of an economic unit entering into a future contract - speculation or hedging may not ascertainable ( regulators may monitor end use, but such regulation may not be very practical, nor effective in a free market). Empirical evidence at a macro level, however, indicates the former to be the dominant motive. The second type of contracting with deferment of obligations of one of the parties to a future date falls between the two extremes. While Sharia scholars have divergent views about its permissibility, our analysis reveals that there is no possibility of earning riba with this kind of contracting. The requirement of spot settlement of obligations of atleast one party imposes a natural curb on speculation, though the room for speculation is greater than under the first form of contracting. The requirement amounts to imposition of a hundred percent margin which, in all probability, would drive away the uninformed speculator from the market. This should force the speculator to be a little more sure of his expectations by being more informed. When speculation is based on information it is not only permissible, but desirable too. Bai salam would also enable the participants to manage risk. At the same time, the requirement of settlement from one end would dampen the tendency of many participants to seek a complete transfer of perceived risk and encourage them to make a realistic assessment of the actual risk. Notes amp References 1. These diverse views are reflected in the papers presented at the Fourth Fiqh Seminar organized by the Islamic Fiqh Academy, India in 1991 which were subsequently published in Majalla Fiqh Islami, part 4 by the Academy. The discussion on riba prohibition draws on these views. 2. Nabil Saleh, Unlawful gain and Legitimate Profit in Islamic Law, Graham and Trotman, London, 1992, p.16 3. Ibn Qudama, al-Mughni, vol.4, pp.5-9 4. Shams al Din al Sarakhsi, al-Mabsut, vol 14, pp 24-25 5. Paper presented by Abdul Azim Islahi at the Fourth Fiqh Seminar organized by Islamic Fiqh Academy, India in 1991. 6. Paper by Dr M N Siddiqui highlighting the issue was circulated among all leading Fiqh scholars by the Islamic Fiqh Academy, India for their views and was the main theme of deliberations during the session on Currency Exchange at the Fourth Fiqh Seminar held in 1991. 7. It is contended by some that the above example may be modified to show the possibility of riba with spot settlement too. In a given moment in time when the market rate of exchange between dollar and rupee is 1:20, if an individual purchases 50 at the rate of 1:22 (settlement of his obligation also on a spot basis), then it amounts to the seller of dollars exchanging 50 with 55 on a spot basis (Since, he can obtain Rs 1100 now, exchange them for 55 at spot rate of 1:20) Thus, spot settlement can also be a clear source of riba. Does this imply that spot settlement should be proscribed too. The fallacy in the above and earlier examples is that there is no single contract but multiple contracts of exchange occurring at different points in time (true even in the above case). Riba can be earned only when the spot rate of 1:20 is fixed during the time interval between the transactions. This assumption is, needless to say, unrealistic and if imposed artificially, perhaps unIslamic. 8. Islam envisages a free market where prices are determined by forces of demand and supply. There should be no interference in the price formation process even by the regulators. While price control and fixation is generally accepted as unIslamic, some scholars, such as, Ibn Taimiya do admit of its permissibility. However, such permissibility is subject to the condition that price fixation is intended to combat cases of market anomalies caused by impairing the conditions of free competition. If market conditions are normal, forces of demand and supply should be allowed a free play in determination of prices. 9. Some Islamic scholars use the term forward to connote a salam sale. However, we use this term in the conventional sense where the obligations of both parties are deferred to a future date and hence, are similar to futures in this sense. The latter however, are standardized contracts and are traded on an organized Futures Exchange while the former are specific to the requirements of the buyer and seller. 10. This is known as bai al inah which is considered forbidden by almost all scholars with the exception of Imam Shafii. Followers of the same school, such as Al Nawawi do not consider it Islamically permissible. 11. It should be noted that modern finance theories also distinguish between conditions of risk and uncertainty and assert that rational decision making is possible only under conditions of risk and not under conditions of uncertainty. Conditions of risk refer to a situation where it is possible with the help of available data to estimate all possible outcomes and their corresponding probabilities, or develop the ex-ante probability distribution. Under conditions of uncertainty, no such exercise is possible. The definition of gharar, Real-life situations, of course, fall somewhere in the continuum of risk and uncertainty. 12. The following traditions underscore the need to avoid contracts involving uncertainty. Ibn Abbas reported that when Allahs prophet (pbuh) came to Medina, they were paying one and two years advance for fruits, so he said: Those who pay in advance for any thing must do so for a specified weight and for a definite time. It is reported on the authority of Ibn Umar that the Messenger of Allah (pbuh) forbade the transaction called habal al-habala whereby a man bought a she-camel which was to be the off-spring of a she-camel and which was still in its mothers womb. 13. According to a tradition reported by Abu Huraira, Allahs Messenger (pbuh) forbade a transaction determined by throwing stones, and the type which involves some uncertainty. The form of gambling most popular to Arabs was gambling by casting lots by means of arrows, on the principle of lottery, for division of carcass of slaughtered animals. The carcass was divided into unequal parts and marked arrows were drawn from a bag. One received a large or small share depending on the mark on the arrow drawn. Obviously it was a pure game of chance. 14. The holy prophet is reported to have said Do not sell what is not with you Ibn Abbas reported that the prophet said: He who buys foodstuff should not sell it until he has taken possession of it. Ibn Abbas said: I think it applies to all other things as well. 15. The Futures Exchange performs an important function of providing a guarantee for delivery by all parties to the contract. It serves as the counterparty in the exchange for both, that is, as the buyer for the sale and as the seller for the purchase. 16. M Hashim Kamali Islamic Commercial Law: An Analysis of Futures, The American Journal of Islamic Social Sciences, vol.13, no.2, 1996 Send Your Comments to: Dr Mohammed Obaidullah, Xavier Institute of Management, Bhubaneswar 751 013, India Mail to: obeidximb. stpbh. soft Source: vlib. unitarklj1.edu. myhtmislamforex. htm Software Metatrader (MT4)adalah salah satu software trading terbaik di dunia rading dignakan untk bertrading di instrumen forex, saham maupun komoditi, tetapi software metatrader lebih umum digunakan di Forex Trading. Software Metatrader dapat dijalankan di PC, Laptop maupun PDA, dan penggnaan software metatrader ini harus dijalankan di sistem windows dan terhubung denngan internet. Metatrader adalah software yang hemat bandwidth (bukan menggunakan aplikasi java) sehingga meskipun koneksi kita sangat minim pun sotware Metatrader ini tetap berjalan dengan baik dan tidak berat. Terminal MetaTrader 4 adalah tempat kerja trader dan memungkinkan bekerja di pasar keuangan dalam bentuk Forex, CFD dan Futures. Dengan trading terminal ini trader dapat menganalisis dinamika alat keuangan, melakukan transaksi perdagangan, membuat dan menggunakan program trading otomatis (Expert, Expert Advisors. Terminal trading MetaTrader 4 trading adalah konsep all-in-one. Terminal klien MetaTrader 4 memiliki instrumen analisis yang sangat mengesankan. Untuk setiap alat finansial ada 9 kerangka waktu (periode) yang memungkinkan untuk menganalisis dinamika kuotasi secara detail. Lebih dari 50 built-in indikator teknikal dan instrumen di ujung jari Anda dalam pekerjaan analitis Anda. Mereka membantu mengungkapkan trend, untuk menemukan berbagai gambaran, untuk menentukan input dan exit point dan banyak hal lainnya. Ada kemungkinan untuk membuka satu objek analisis lebih dari satu lagi. Anda dapat mencetak semua diagram dari setiap alat dan untuk melanjutkan analisis Anda di atas kertas juga. Kemungkinan analitis dari MetaTrader 4 terminal tidak terbatas untuk itu saja. Jika diperlukan untuk menggunakan indikator non-standar, adalah mungkin untuk menulis sendiri menggunakan bahasa MQL4. Selain itu, adalah mungkin untuk menulis analisa khusus dan untuk mengotomatisasi proses analisa dan perdagangan sepenuhnya. Keamanan transaksi perdagangan adalah salah satu tugas utama dipecahkan oleh program serupa dan MetaTrader 4 telah memecahkannya dengan baik. Pertukaran informasi antara terminal klien dan server platform bentuk kode dengan 128-bit kunci. Dan itu sudah cukup bagi keamanan transaksi perdagangan. Selain itu adalah mungkin untuk menggunakan sistem keamanan ditingkatkan berdasarkan algoritma RSA tanda tangan digital. Tidak mungkin untuk menjebol informasi yang dilindungi oleh cara ini untuk waktu yang akan datang. Terminal klien MetaTrader 4 memiliki banyak fungsi yang mudah dimengerti. Berkat pengembangan interface secara menyeluruh, semuanya terlihat sangat intuitif. Untuk memahami bagaimana cara kerjanya hanya membutuhkan beberapa menit. Melalui sarana Help trader dapat menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang sudah terisi di dalam terminal. Forex adalah sebuah investasi modern dimana secara individu kita bertanggungjawab terhadap modal dan prilaku berinvestasi kita. Berinvestasi di Forex juga sama seperti bisnis lainnya, Kita harus memiliki ilmunya. Kabar gembiranya, semua materi Forex lengkap akan saya berikan didalam kelas dalam bentuk Video dan juga forum interaksi. Materi Forex Sudah Saya Bagi Mulai Dari Tahap Perkenalan Sampai Dengan Tekhnik Yang Bisa Menghasilkan Profit. Dan Saya Berharap Teman-Teman Bisa Mulai Belajar Dari Awal dan Jangan Loncat-loncat Ya ) 1. Forex Dasar Di Module Ini Temen-Temen Bisa Belajar Tentang Apa Forex, Pair Lot Pips, Leverage amp Order, Technical dan Fundamental. Jangan Sampai Di Lewatkan Karena Ini Adalah Dasar Forex Yang Harus Paham di Module Selanjutnya. 2. Perkenalan MT4 Tak Kenal Maka Tak Sayang, Di Module Ini Temen-Temen Bisa Belajar Tentang Metatrader Sebagai Platform Yang Digunakan untuk Melakukan Order di Pasar Forex 3. Perkenalan Indikator Selain Metatrader Kita Akan Membutuhkan Tool Bantuan Untuk Memutuskan BuySell di Forex. Nah Tool-Tool Ini Dinamakan Indikator. Dimodule ini Kita Akan Kupas Apa Itu Indikator 4. HiLow Morning Teknik Pada Module Ini Kita Sudah Masuk di Tekhnik Pertama. HilOw Morning Tekhnik. Tekhnik Order Yang Memanfaatkan Tinggi Rendah Harga di Pagi Hari ) 5. MoVa Simple Teknik Mova Simple Tekhnik Adalah Tekhnik Kedua Yang Akan Kita Pelajari Di Module Ini, Yaitu Cara Melakukan Order Dengan Memanfaatkan Cross Antara Garis Moving Avarage. 6. SuRe Teknik Apakah Temen-Temen Tau Kalo Harga Selalu Ada Titik Jenuhnya Ketika Naik Ataupun Turun Serta Ada Titik-Titik Dimana Harga Akan Kembali Ke Harga TerendahTertinggi Nah Di Module inilah Kita Akan Belajar Bagaimana Melakukan Order dengan Melihat titik jenuh harga. 7. Break Teknik Pada Module Ini Kita Akan Belajar Bagaimana Melakukan Order disaat Harga Sudah Break Dari Trend ataupun Support Resisitance. Amaran Sila tutup website ini jika anda tidak percaya kepada kekayaan FOREX. Adakah anda sudah bosan dengan teknik-teknik basic dan teknik swing trading yang agak lama untuk menghasilkan entry dan terlalu slow untuk menggandakan akaun anda Mahukah anda pelajari teknik scalping yang betul-betul boleh menggandakan akaun anda dengan pantas Jika YA. tahniah Anda dilaluan yang TEPAT PERHATIANTawaran ini adalah terhad. Sila baca dengan teliti sebelum tawaran ini ditutup. VERSI UPDATE TERKINI ADVANCE 2.0 LEBIH HEBAT DAN LEBIH MANTAP LIHAT SCREENSHOT DI BAWAH. Mahukah anda menjana 100, 200 ataupun 500 sebulan melalui FOREX dan kesemuanya dalam nilai USD Kini dengan kecanggihan teknlogi sekarang urus-niaga ini kini menjadi lebih mudah dengan adanya aplikasi android smartphone Kini anda boleh melakukan bisnes di mana sahaja anda berada asalkan adanya sambungan internet. Inilah kebebasan perniagaan sebenar Lihat hasil trading saya Dari. Meja admin, Trading Room TAJUK. RAHSIA SCALPING FIBONACCI SEBENAR DIDEDAHKAN Mungkin ada di antara anda yang pernah mendengar atau melihat sendiri trader-trader yang telah menghasilkan wang antara 10k hingga 100k sebulan melalui FOREX. Malah ada yang berjaya menghasilkan sehingga jutaan ringgit. Well , saya takkan mendedahkan apa-apa rahsia di sini tentang strategi, cara, mahupun teknik luar biasa di mana anda akan menghasilkan wang jutaan ringgit seperti itu. Akan tetapi jika anda ikuti langkah-langkah yang diajarkan, saya yakin anda juga boleh menghasilkan pendapatan sampingan yang mungkin bukanlah puluhan ribu tetapi saya yakin ia memadai bagi anda sebagai pendapatan sampingan walaupun dalam masa yang sama anda bekerja untuk pendapatan gaji bulanan anda . USD 11,000 SEHARI BOLEH KE. Mungkin anda lebih berminat jika saya dedahkan rahsia menjana 10k, 20k mahupun 100k seminggu dari FOREX seperti yang anda mungkin pernah lihat atau dengar sebelum ini dari sumber-sumber seperti internet, majalah. TAPI bagaimana jika saya dedahkan juga bahawa semua itu sebenarnya bukanlah semudah yang dikatakan Ia perlukan modal yang besar, pengalaman bertahun-tahun, serta ilmu pengetahuan yang tinggi. Adakah anda masih berminat sudah tentu anda mahu memikirkan dahulu bukan Modal besar, return besar tapi berapa ramai yang boleh sediakan modal besar Jom tengok bukti berikut. Sila tekan right button tetikus anda dan klik view image.. FOREX bukanlah skim cepat kaya tapi jika anda punyai strategi yang betul, anda pasti akan kaya. Rata-rata trader yang berjaya dalam forex bukanlah kebetulan, bukan juga sebab dilahirkan untuk menjadi demikian akan tetapi mereka semua adalah orang yang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang cukup tentang selok-belok trading FOREX. Adakah anda boleh mengatasi mereka dalam masa yang singkat kurang dari setahun Lupakan 10, 20k mahupun 1 juta. Semua itu mustahil jika anda memulakan trading dengan modal yang minima tak sampai pun 100k. Usah kejar benda yang mustahil. Mari capai target yang lebih munasabah. Dalam erti kata lainnya, ukur baju biarlah di badan sendiri. Fikirkan dengan logik, modal 11,000 menghasilkan 1,100 dalam masa singkat sehari itu memang logik kerana itu baru 10 daripada modal yang anda laburkan. TETAPI jika anda mahu modal 1,100 menghasilkan keuntungan 11k dalam masa sehari itu tak munasabah dan tak realistik. 95 trader adalah GAGAL FOREX adalah instrument pelaburan yang berisiko tinggi dan tidak sesuai dengan semua orang. Di sini saya akan dedahkan teknik strategi berkesan untuk menghasilkan keuntungan berterusan dan dalam maa yang sama dapat mengawal risiko di tahap minimum dan keuntungan pada tahap semaksimum mungkin. Anda akan diajarkan langkah demi langkah untuk melakukannya dan paling best dari itu, anda boleh lakukannya secara part-time sahaja Tiada sebab anda tidak boleh melakukan trading lagi jika anda sibuk dengan kerja seharian anda. Modal yang minimum, keuntungan MAKSIMUM Anda boleh memulakan FOREX trading pada modal minimum ikut kemampuan anda. Jangan sesekali meletakkan modal yang anda tidak sanggup untuk kerugian. Anda boleh mulakan serendah USD 40, 50 ataupun 100. FOREX bukanlah perlumbaan untuk siapa kaya dahulu TAPI forex adalah suatu lubuk kekayaan untuk kita kaut secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit dan secara tidak sedar nanti ia akan menjadi banyak juga akhirnya. Tidak perlu tergesa-gesa untuk hasilkan kekayaan segera kerana ramai trader yang berkesudahan dengan margin call(kehabisan modal) akibat dengan sikap tamak ini. Oleh itu mulakan dengan modal yang minima dan gandakannya sedikit demi sedikit secara konsisten setiap minggu dan setiap bulan. Modal yang sesuai untuk bermula forex adalah sebaiknya serendah 100, 300 atau maksima 500 sahaja. Melalui modal ini target mingguan serendah 10 hingga 50 itu adalah logik dan realistik dan boleh dicapai. Jika anda berjaya menghasilkan 50 seminggu x 4 minggu (sebulan), ini sudah bersamaan 200 ATAU dalam Ringgit adalah bersamaan RM640 sebulan atau RM7,680 setahun. Itupun jika 50 seminggu. Bagaimana jika anda hasilkan 100 seminggu 200 atau 300 seminggu Sudah pasti ia adalah amaun yang sangat besar jika dihitung dalam masa setahun. Akan tetapi ingat, untuk menghasilkan pendapatan seperti itu pastikanlah anda menggunakan modal yang bersesuaian iaitu ia mestilah lebih ari 500 hinggalah 1k. Melalui modal ini, target mingguan sebanyak 10 atau 30 sudah cukup tinggi bahkan memadai untuk dicapai. Tak perlulah nak capai 100 hingga 300 dalam masa seminggu kerana secara tidak sedar ia mendorong anda untuk menjadi tamak dan akan terjerat dalam kerugian. 100, 200 atau 500 sebulan lebih berbaloi untuk dicapai daripada sibuk-sibuk nak capai 10k, 20k sebulan tapi last-last habuk pun tak ada. Melalui teknik strategi yang saya bakal dedahkan kepada anda ini, saya akan ajarkan anda bagaimanakah hendak mendapatkan trade yang punyai keuntungan beratus-ratus pips sekali trade lebih banyak berbanding risiko yang anda letakkan. Melalui kaedah seperti inilah anda akan bertahan lebih lama dalam forex dan, sudah tentu untuk hasilkan profit lebih banyak dalam tempoh masa yang lama tanpa perlu berulang-ulang deposit akibat margin call(kerugian terukkehabisan modal). Mana anda mahu, untung 100 sebulan daripada modal 1k selama 12 bulan secara part-time atau deposit modal 100 tiap-tiap bulan secara full-time kerana mengejar 1k setiap bulan - Anda tentukan Dalam ebook saya, saya akan ajarkan anda bagaimana menggunakan money management yang betul untuk mengandakan akaun anda dalam jangka masa panjang. Inilah sebenar-benarnya cara untuk memaksimakan keuntungan - Melalui money management untuk tempoh tertentu dengan memastikan sebanyak mungkin winning rate dalam trading NAMUN dalam masa yang sama mengawal paras risiko seminima yang mungkin. Part inilah ramai yang gagal kerana ramai yang merasakan mereka boleh menggandakan wang mereka dalam masa yang singkat dan mengabaikan pula kawalan money management dalam trading. 5 sebab mengapa anda harus memilih FOREX sebagai sumber pendapatan ke-2 anda Market sebesar 5.1 Trillion sehari - Tak perlu berebut-rebut Memperkenalkan kepada anda Strategi Scalping Fibonacci ANTARA ISI KANDUNGAN DALAM EBOOK INI.. Mahukan profit seperti di atas Buatlah tempahan sekarang jugaForex Trader Perosak amp Islamkah Matawang Emas Tidak dinafikan sistem kewangan Islam yang wujud hari ini masih banyak kelemahan dan kekurangannya. Dari pelbagai jenis sudut, sama ada dari sudut rangka kewangan dunia yang mengcengkam, system perundangan yang banyak kalanya tidak bersedia dan tidak menepati, pemegang saham perbankan Islam yang lsquotidak ihsan serta terlalu mengejar keuntungan, sistem perkomputeran dan pengiraan yang masih lagi lsquoterpaksa mengikut rentak majoriti yang konvensional, produk perbankan Islam yang masih terbawa-bawa kehendak pelanggan berminda konvensional, pelanggan yang terlalu lsquodemand kesempurnaan pada praktis perbankan Islam tetapi diri sendiri terlalu jahil tentang Fiqh Muamalat dan kewangan moden hingga akhirnya menjadi racun kepada umat Islam, sistem matawang fiat yang direka, dicipta dan diatur tidak dengan cara yang betul dan panjang lagi senarainya jika ingin saya kongsikan di sini. Dari senarai panjang tersebut, hanya satu yang ingin dikongsikan bersama dalam tulisan ringkas padat ini. Iaitu topik berkaitan sistem pengendalian matawang yang menyukarkan perubahan untuk melahirkan system kewangan Islam yang terbaik. Kesalahan pengendalian dan regulasi matawang hari ini telah diakui oleh begitu ramai pakar dari kalangan Muslim dan bukan Islam sebagai salah satu punca berlakunya kegawatan demi kegawatan. Di dalam Forum Kewangan Dunia di Geneva 2010, baru-baru ini, Pengerusi Majlis Syariah Kesatuan Kewangan Islam Sedunia (AAOIFI) yang juga Naib Presiden Darul Uloom, Karachi, Syeikh Mufti Taqi UThamni telah berusaha berkongsi pandangan sebagai mewakili majoriti besar ulama dan ahli ekonomi Islam berkenaan system matawang. Beliau cuba membawa menyedarkan pemimpin-pemimpin Negara maju untuk membuat satu perubahan radikal jika benar-benar ingin mengelakkan berulangnya lsquoserangan kejatuhan ekonomi di masa akan datang. Sesuai dengan tema program tersebut yang cuba mencari punca dan penyelesaian bagi kegawatan ekonomi baru-baru ini. Benar, di waktu dan ketika ini, yang praktikal adalah dengan cuba meyakinkan pemimpin Negara maju ini untuk berubah, itu adalah salah satu cara terbaik untuk mempengaruhi system besar kewangan dunia untuk berubah dan dibaikpulih sedikit demi sedikit. Memang kita boleh menunjuk lsquolagak untuk mempertikai itu dan ini dan mengkritik system kewangan Islam dengan pelbagai tuduhan keras selagi menumpang di atas system kewangan konvensional dan menggunapakai matawang fiat kertas. Namun pandangan ideal semata-mata yang tidak menjejak di bumi pasti akan gagal menyakinkan pemimpin Negara maju untuk berubah, lalu ia akan kekal menjadi mimpi dan idaman sahaja. Atas dasar itu, kita bersyukur dan berterima kasih atas usaha Syeikh Taqi Uthmani yang amat cemerlang. Beliau mengusulkan idea perubahan praktikal yang mesti dilakukan oleh dunia bagi menghasilkan sesebuah system kewangan yang lebih dinamik dan selamat di masa akan datang. Salah satu cadangannya patut difahami sebaiknya oleh kita semua, selaku umat Islam sendiri. Kerana bagaimanakah boleh kita mengharapkan perubahan hanya dari minda dan tangan pemimpin barat sedang kita sendiri tidak faham apa yang sepatut dan yang tidak. Justeru, di kesempatan ini saya ingin menegaskan satu perkara sahaja. Tanpa niat untuk mengulas secara mendalam perihal matawang emas dan praktikalitinya di dunia moden, sebenarnya ada satu isu yang lebih basic dari isu tersebut, yang tanpa memahaminya, matawang dinar emas ( jika mampu dilaksana) juga akan tetap gagal dalam membentuk sebuah system ekonomi yang Islamik dan stabil. Ia adalah isu kemestian untuk mengembalikan fungsi matawang dalam Islam. KEMBALIKAN FUNGSI ASAL MATAWANG Imam Abu Hamid Al-Ghazali sejak 900 tahun dahulu telah menegaskan fungsi asal dan asas bagi matawang menurut perspektif Islam. Beliau berkata quotPenciptaaan dirham dan dinar ( matawang emas dan perak) adalah benar-benar satu rahmat dari Allah taala, kedua-duanya pada hakikatnya tiada nilai tersendiri yang boleh dimanfaatkan oleh manusia ( seperti untuk makan dan minum), tetapi akhirnya semua manusia memerlukannya disebabkan semua manusia memerlukan nilai suatu komoditi (barang) untuk ditukarkan bagi mendapatkan keperluan asasi makanan dan pakaiannya. Atas sebab itu, transaksi yang melibatkan pertukaran barangan antara satu sama lain tidak dapat dielakkan, Namun masalahnya, bagaimana untuk diukur nilai sesebuah barang dan ditetapkan harganya Justeru keperluan itu, semua barangan keperluan ini memerlukan satu barang perantaraan yang boleh menjadi ukur rujuk bagi nilai. Maka itulah gunanya dinar dan dirham ini (wang emas dan perak), kedua-dua logam berharga itu akan menjadi ukuran nilai sesuatu barangan lain kerana KEDUANYA TIDAK MENJADI OBJEKTIF jual beli, ia hanya menjadi perantaraan, jika kedua menjadi OBJEKTIF seluruh system ekwangan akan ROSAK DAN TERGANGGU. Kerana itulah Allah menciptankannya, melalui perantaraannya, pertukaran barangn kepelruan yang menjadi sasaran dan oibjektif jual beli akan terjamin keadilannya. quot Dari penerangan Imam Al-Ghazzali ini, jelas pendirian ekonomi Islam berkenaan matawang tidak kira ia dari jenis emas, perak atau kertas fiat adalah:- a) Matawang mestilah hanya sebagai perantara bagi tranksaksi jualbeli komoditi sebenar sahaja dan ia sendiri BUKAN komoditi. b) Matawang mesti menjadi panduan ukuran nilai sesuatu barang keperluan. Kedua-dua syarat di atas saling berkait, tanpa salah satu, ia akan gagal menjadi matawang yang dikehendaki oleh Islam. Ini juga konsep yang telah diakui tepat oleh para ahli ekonomi seluruh dunia, khususnya Muslim economist. Malangnya, di ketika ahli cerdik pandai ini menyarankan dan mengakuinya, pemimpin politik dan taikon kewangan dan regulator badan utama kewangan dunia tidak mahu menrima pakai cadangan dan pandangan tersebut, ia tidak lain adalah akibat ketamakan melampau puak korporat dan politik ini. Kesannya, hari ini matawang selain dijadikan sandaran nilai dan medium perantara jualbeli, ia sendiri telah dijadikan sebagai KOMODITI yang juga barang yang dijual dan dibeli. Dalam bahasa mudahnya, emas dan matawang sendiri dijadikan sebagai objektif dalam sesuatu transaksi jualbeli, ia sepatutnya hanya menjadi perantara namun kini, fungsinya telah disalahgunakan sehingga menjadi barang jualan dan akhirnya menyebabkan nilainya tidak lagi stabil (fluctuate). Ini mencacatkan fungsinya yang sepatutnya dijadikan sandaran atau ukuran bagi nilai komoditi lain. Matwang yang dijadikan sandaran nilai sepatutnya mempunyai nilai yang hampir tetap, tidak terlalu banyak berubah dan bergerak. Hanya dengan itu, inflasi dapat dikawal dan jualbeli menjadi stabil dan keadilan tersebar. Namun apabila matawang hari ini di jadikan komoditi, nilai sendiri tidak terkawal. Selain melihat nilai matawang kertas, cuba lihat juga nilai emas hari ini, bukankah ia juga turun naik dengan agak kerap..itu tanda emas yang wujud hari ini diperlakukan secara salah oleh manusia. Atas sebab itu, hatta jika hari ini kita sibuk menginginkan emas untuk dijadikan matawang, namun dengan sikap dan attitude yang menggangap matawang sebagai komoditi, emas dan perak itu sendri pun akan gagal berfungsi sebagai matawang yang diinginkan oleh Islam. Sebab itulah, perlu difahami, kejayaan menjadikan emas sebagai matawang belum boleh dianggap satu kejayaan mengislamkan ekonomi sama sekali, malah masih amat jauh. Malah, apa yang lebih perlu diperbetulkan adalah sikap, kefahaman dan system regulasi kewangan dunia hari ini. Sistem matawang emas dan perak ini pun bukanlah diperkenalkan oleh Rasulullah, malah ia telah wujud sebelum dari kebangkitan Rasulullah. Islam menerima pakai dua logam berharga itu sebagai matawang dan hanya mampu di quotISLAMKAN apabila syarat-syarat urusniaga matawang yang digariskan oleh baginda Nabi DIPENUHI. Justeru, hanya memperjuangkan matawang emas bukan segala-galanya bagi sebuah ekonomi dan kewangan Islam. Justeru, janganlah ada yang menyangka bahawa system kewangan Islam akan hanya menjadi benar-benar Islam apabila menggunakan emas dan perak sebagai matawang. Tidak semudah itu. Malah dengan fiat money ini juga system kewangan Islam mampu dicapai jika regulasi dan pengurusan matawang berjaya direfomasikan kepada cara yang betul, sama ada cara ia dikeluarkan, edaran, kawalan dan penggunaannya. MENYEDIHKAN BILA EMAS DIJADIKAN ALAT PELABURAN Lebih menyedihkan, di ketika laungan dan desakan untuk mengembalikan emas dan perak sebagai matawang dipukul canang oleh sebahagian umat Islam, individu yang sama juga kelihatan sibuk memperdagangkan emas dan menjadikannya sebagai sebagai bahan pelaburan. Mereka sibuk membeli emas dalam bentuk jongkong yang dijual oleh Public Bank, Maybank melalui akaun pelaburan emasnya, atau melalui syarikat-syarikat lain untuk disimpan dan kemudian dijual bagi memperolehi untung atas perbezaaan hari ini dan masa hadapan . Kemudian mereka menggembar-gemburkan kononnya melabur dalam emas adalah Islamik dan menepati Islam. Hakikatnya itu adalah dakwaan terseleweng mereka, ia tersasar dari falsafah matawang yang digariskan oleh Imam Al-Ghazzali, dan majority ilmuan Islam. Memang benar, walaupun secara kontraknya jual beli mereka adalah sah apabila menepati syarat serah terima pada satu masa dan sama timbangannya (Yadan bi Yadin mithlan bi mihtlin) . tetapi hakikatnya tindakan itu tersasar dari Maqasid al-Shariah kepada penciptaan emas dan perak itu sendiri . Malah jika benar-benar satu hari kelak emas dijadikan matawang, individu sebegini yang akan merosakkan system kewangan Islam di ketika itu. Mengapa Kerana mereka terlibat dalam mengubah fungsi emas dan perak yang sepatutnya menjadi matawang kepada komoditi dan objektif untuk membuat untung atas perubahan nilai. Selagi mereka melaksanakan kerja itu, selagi itulah emas juga TIDAK SESUAI dijadikan matawang. Kelak nanti syiling-syiling matawang emas semuanya disimpan dan disorokkan dari gunapakai, kerana ingin menunggu nilainya menaik. Tatkala itu ia akan tergolong dalam erti ihtikar yang diharamkan. Perlu difahami, emas yang sudah dibentuk menjadi perhiasan seperti gelang, rantai, cincin dan sepertinya tidak dilarang untuk dijadikan komoditi atas sifatnya yang telah bercampur dengan skill pembuatan dan ditokok tambah pula dengan batu permata dan sebagainya. Tatkala itu, barulah boleh diambil untung atas jualannya. BAGAIMANA KONTEKS HARI INI MATWANG KERTAS Disebabkan matawang emas masih tidak wujud di ketika ini, maka bagi memastikan system kewangan lebih stabil dan selamat pada pandangan Islam, maka apa sahaja yang menjadi galang ganti kepada matawang emas dan perak juga TURUT WAJIB DIKENDALI SESUAI SEBAGAI MATAWANG BUKAN KOMODITI. Kesatuan Fiqh Islam sedunia, akur kepada system kewangan dunia yang dipegang oleh bukan Islam, mereka mengatur dan menjadikan kertas sebagai matawang. Maka atas dasar hajiat . ulama sedunia bersama pakar ekonomi Islam membuat keputusan keharusan untuk mengunnapakai matawang kertas namun mestilah diuruskan menepati cara urusan emas dan perak. Iaitu dari sudut hukumnya dan juga cara pengendaliannya sebagai matawang, iaitu tidak harus dijadikan komoditi. Atas sebab itu, forex trading walaupun dibuat spot tetapi untuk mengabil untung atas perbezaan nilai matawang, adalah juga HARAM di dalam Islam kerana ia lebih kepada spekulasi dan perjudian. Di samping isu-isu lain seperti gharar dan keterlibatan riba dalam leverage. Apapun, yang pasti perniagaan forex trading wang kertas pelbagai Negara adalah untuk menraih untung atas perbezaaan nilai matwang adalah HARAM kerana ia adalah judi dan penyebab mudarat kepada system ekonomi dunia dan penyumbang kepada inflasi serta ketidakstabilan nilai matawang. Bank-bank Islam di seluruh dunia juga dikawal selia oleh Majlis Syariah masing-masing agar tiada unsur spekulasi dalam setiap forex trading mereka. Hanya forex untuk tujuan lindung nilai ( hedging) sahaja dibenarkan. Itulah juga keputusan Majlis Shariah Bank Negara Malaysia. Forex trading untuk raih untung atas perbezaan nilai matwang tidak dibenarkan OLEH MAJORITI Majlis Syariah bank-bank Islam walaupun ia dibuat secara spot. Hasilnya, kita perlu faham, matawang kertas (fiat money) yang wujud hari ini juga mestilah TIDAK dijadikan komoditi, sama seperti emas dan perak. Itulah yang diwarwarkan oleh Syeikh Taqi Uthmani semasa Forum Kewangan Dunia. Bagi mengurangkan masalah di dalam system ekonomi semasa. Sebagai jalan pertama untuk mewujudkan system ekonomi adil dan menepati Islam. Malangnya dicelah-celah ketamakan manusia hari ini, matawang kertas fiat hari ini turut menjadi bahan sasaran dan objektif keuntungan. Bukan sahaja bank-bank terlibat, malah ramai individu juga rambang mata berniaga FOREX melalui platform internet, Walau ia ditegah oleh kerajaan, semuanya tidak diendah lagi. Mereka membeli matawang sesebuah Negara (Euro sebagai contoh) untuk disimpan sebagai pelaburan bagi menunggu nilainya menaik untuk dijual kembali di pasaran. Inilah punca dan penyebab kelam kabut ekonomi dunia. Sama ada ia dilakukan oleh industri perbankan atau individu. Kesemuanya BERDOSA. Imam Al-Ghazzali berkata. quotJadinya, barangsiapa yang memulakan berjualbeli matawang (untuk mendapat keuntungan perbezaan nilai), tindakannya sendiri telah BERCANGGAH dengan objktif asal penciptaan matawang. jika dibenarkan mereka berbuat demikian, kelak matawang itu sendiri akan menjadi tumpuan dan objektif lalu akan bermulalah perbuatan ihtikar (hoarding) simpan untuk tunggu naik harga dan jualquot 1 Falsafah larangan dan objktif ini dijelaskan oleh Syeikh Taqi uthmani dapat dilihat dengan jelas dari pengharaman riba dan penghalalan jual beli sebagai ganti kaedah untuk mendapat untung. PENYELESAIAN TEPAT DAN TIDAK PELIK Sebenarnya cadangan ini tidaklah ganjil dan pelik, malah ia juga telah dicadang oleh ramai pakar ekonomi termasuk yang bukan beragama Islam. Contohnya selepas berlakunya kegawatan pada tahun 1930 an, lsquoEconomic Crisis Committee telah dibentuk oleh Southampton Chamber of Commerce . selepas perbincangan dan diskusi mendalam mereka menyatakan: quotIn order to ensure that money performs its true function of operating as a means of exchange and distribution, it is desirable that it should cease to be traded as a commodity. quot 2 Malah suatu percubaan praktikal telah dicuba dan didedahkan oleh seorang ahli ekonomi bernama Margrit Kennedy di dalam bukunya bertajuk quotInterest and Inflation Free Money. quot Beliau memaklumkan hasil percubaan pelaksanaan interest free model DAN MATAWANG TIDAK DIJADIKAN KOMODITI yang dilakukan di pekan kecil Austria pada tahun 1932- 1933, dia menyatakan. quotWhen over 300 communities in Austria began to be interested in adopting this model, the Austrian National Bank saw its own monopoly endangered. It intervened against the Town Council. quot 3 Beliau juga bersama beberapa pakar ekonomi di USA telah berusaha bagi mencadangkan system alternative ini kepada kerajaan USA pada tahun 1933, tetapi semua cadangan mereka ditolak. Syeikh Taqi menegaskan. quotIn order to save the world from such evil consequences, trading in money itself should be stopped. Exchange of different currencies is, of course, inevitable for the purpose of international trade, for which one currency has to be sold for another currency, and a margin of profit for the seller may be inbuilt in the exchange rate. So far as these exchange transactions are carried out for the genuine purpose of cross border trade of real commodities, it cannot pose a problem. The problem arises when exchange of currencies is meant for speculative transactions in money itself. Unfortunately, majority of currency transactions carried out in the market are purely speculative. quot 4 Ertinya. quotBagi menyelamatkan dunia dari kesan buruk, penjualbelian matawang MESTI dihentikan, Namun begitu, pertukaran matawang berbeza adakalanya tidak dapat dielakkan bagi keperluan perdagangan antarabangsa, yang mana memerlukan pertukaran dan jualbeli matawang berbeza. dan margin keuntungan penjual mungkin telah dimasukkan dalam nilai tukaran. Biasanya pertukaran dari jenis ini yang didasari oleh tujuan-tujuan asas perdagangan komoditi sebenar, ia tidak banyak mengancam ekonomi. Masalah sebenar hanya berbangkit apabila pertukaran matawang dibuat bagi tujuan spekulasi dalam nilai matawang itu sendiri. Amat malang apabila didapati majority transaksi pertukaran matawang dibuat adalah atas dasar spekulasi tulen (judi) . Bayangkan, dengan jumlah global international trade pada tahun 2008 sekitar US 32 trillion, 5 iaitu purata US88 billion setiap hari, mankala lsquodaily turnover bagi global foreign exchange markets pula dianggarkan pada nilai USD 3.98 trillion, 6 iaitu, 45 kali ganda lebih besar dari jumlah international trade. Ini bermakna hanya 2 daripada pertukaran matawang benar-benar didasari oleh permintaan sebenar oleh kerajaan dan peniga. Baki 98 adalah dilakukan atas dasar spekulasi yang akhirnya menyebabkan inflasi di seluruh dunia dan menjadi salah satu punca ketidakstabilan ekonomi dunia dan kegawatan. 1) Wajib mengembalikan fungsi matawang kepada asal iaitu penentu nilai barangan (komoditi) dan perantara kepada proses jualbeli komditi. 2) Tidak menjadikan matawang samada wang fiat atau emas dan perak sebagai komoditi kerana ia hanya akan merosakkan system nilai dan ekonomi serta menambah inflasi. 3) Haram hukumnya menyertai FOREX Trading melalui internet di peringkat individu kerana bercanggah dengan undang-undang negara dan banyak syubhatnya di sisi undang-undang Islam. 4) Setiap penasihat Syariah bank-bank Islam wajib menyemak kembali fatwa mereka (jika ada yang membenarkan) yang membenarkan bank seliaan mereka berniaga FOREX Trading walau mematuhi syarat serah terima sertamerta. 5) Kerajaan Malaysia amat patut mengenengahkan idea ini kedalam perbincangan ekonomi dengan Negara-negara maju di seluruh dunia. Saya yakin mereka sedar, hasil membenaRKAN matawang sebagai KOMODITI inilah yang menjadikan Malaysia sasaran George Soros pada tahun 1997. Tanyalah Dr Mahathir tentang hal ini. 6) PAS dan Pakatan Rakyat juga patut menjuarai isu ini di pentas nasional dan global. Jangan biarkan Syeikh Mufti Taqi Uthmani keseorangan dalam lontaran ideanya. 7) Kepada penyokong-penyokong matawang emas dinar, jangan anda terlibat dalam perdagangan emas jongkong sebagai komoditi kerana anda adalah punca kegagalan system itu diyakini oleh barat kerana nilainya juga turut akan menjadi fluctuate kerana anda. 8) forex YANG DIBENARKAN hanyalah a) Untuk lindung nilai (hedging) b) untuk tukar duit kerana urusan luar negara ( yang biasanya tukar di money exchange)c) forex tukaran matawang yang diperlukan kerana perdangangan komoditi di peringkat antarabangsa yang memerlukan penggunaan matawang berbeza. 9) FOREX trading untuk raih keuntungan yang dilakukan oleh individu sebenarnya kecil sekali berbanding FOREX yang dilakukan oleh Bank Negara Malaysia dan bank-bank Komersial. Kerajaan Malaysia sepatutnya MENIMBANG KEMBALI DASAR FOREX yang besar ini terlebih dahulu. Bukankah dahulu BNM pernah rugi berbillion ringgit akibatnya. Kesimpulannya kedua-dua Forex dari institusi dan perseorangan sama sekali tidak menepati Maqasid Shariah dan merosak fungsi matawang. 10) Sekadar menyimpan emas untuk diri sendiri di kemudian hari, tiada masalah di sisi Islam dan Maqasid Shariah. Apa yang saya sifatkan sebagai bermasalah dalam tulisan ini adalah yang simpan emas sekejap, kemudian jual, kemudian simpan balik, kemudian jual semula. Iaitu mereka yang menjadikan emas untuk trading secara kerap kerana meraih untung perbezaaan nilainya. Jadi, jangan salah faham tulisan ini sebagai in total melarang simpanan emas. Terima kasih kepada sesiapa yang mampu membaca sehingga tamat artikel ini dan khusunya bagi mereka yang mampu memahami tulisan ini. Sampaikanlah ia kepada sesiapa yang mampu memgambil manfaat darinya. Zaharuddin Abd Rahman 1 Februari 2010
No comments:
Post a Comment